Beberapa hari yang lalu saya pergi kekampus dari rumah, kampus saya lumayan deket dari rumah, bisa sampai hanya dengan naik angkot sekali, tapi karna saya bareng sama temen, jadi harus naik angkot 2 kali.
Ketika turun dari angkot pertama. Dan mau naik angkot kedua. Waktu itu di daerah tebet. Sambil nunggu penumpang turun ada anak kecil yang seorang perempuan membawa amplop kecil-kecil dengan tas slempang kecilnya, kalian pasti sering menemukan anak kecil seperti itu di angkot. Tujuannya satu untuk mengamen.
Jujur saya tipe orang yang ga tegaan. Jadi saya mengajak teman memilih Menaiki angkot yang lain. Tanpa disadari anak kecil itu mengikuti kami. saya pasrah.
Memilih duduk di posisi paling pojok.
Anak itu mulai membagikan amplop ke penumpang, ketika giliran saya, saya angkat tangan dengan artian "maaf".
Diperjalanan anak itu menyanyi. dan sepanjang perjalanan itu saya memperhatikannya. Miris.
Kenapa? Anak sekecil itu!
Dimana orang tuanya?
Anak sekecil itu harusnya mengenal bagaimana bermain, bukan bagaimana mencari uang!
dikampus saya belajar tentang psikologi bermain, disitu dijelaskan bahwa anak yang masih terbilang kecil harus belajar bersosialisasi dengan lingkungan, belajar berpikir kritis, imajinasi, kreativitas, melalui bermain!
Dengan bermain anak-anak akan mengenal lingkungan, menumbuhkan pengalaman empiris agar mereka belajar , belajar mengenal diri mereka, belajar bertanggung jawab.
Miris. Kalau sudah begitu siapa yang bertanggung jawab?
"Ngapain mikirin orang lain, diri sendiri aja belum bener"
Saya sering mendengar kata ini, ya kata ini benar. tapi saya berfikir, kenapa tidak? Kenapa ga kita seimbangkan? Dari orang lain kita bisa belajar. Belajar dari lingkungan itu perlu, karna sehari-harinya kita hidup di lingkungan. Apapun.
Saya pernah menunggu teman diterminal, disebelah saya ada seorang bapak" meminta.. setiap hari saya selalu lihat bapa ini ketika turun dari angkot. Biasanya hanya melewati, Tapi kali itu saya benar" memperhatikan.
Bapak itu duduk di jalan dengan beralaskan tikar, menengadahkan tangannya ketika orang lewat, sesekali bapak itu menengok keatah saya dengan wajah curiga. dalam 10 menit saya berdiri, kurang lebih bapak itu mendapatkan 15rb. Luar biasa untuk ukuran saya, karna saya merasa pernah dibayar 50rb dalam sehari selama 8 jam . Kerja dengan otak, tenaga, tapi saya bersyukur.
Dari situ saya belajar, betapa nikmatnya cape karna kerja seharian, terkadang saya mengeluh kerasnya jakarta.
Bagaimana tidak? Beberapa minggu yg lalu saya hampir di copet oleh orang yang dandanannya sangat rapi bak orang kantoran, caranya dia mencopet yang menurut saya sangat pintar.
lalu ketika saya bekerja didaerah kuningan dengan macetnya yg luar biasa, di sepanjang jalan banyak orang berjualan, bahkan sampai ibu" menggendong anak sambil menjual minuman. Rasanya saat itu mau nangis.
Melalui mereka saya belajar, belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk lebih mengenal arti hidup sebab-akibat.
Saya bukan orang sedang menyalahkan keadaan. Bukan.
Saya hanya mau menuangkan pemikiran saya.
Saya tidak menyalahkan indonesia, saya cinta indonesia dengan gugusan pulaunya yang indah.
Tapi saya tidak suka dengan sistem yang ada diindonesia.
Oke jadi sistemnya atau orangnya yang salah?
Sitemnya!
Ketika ada orang yang suka buang sampah sembarang, di taro dinegara yang punya sistem apabila buang sampah sembarang akan dikenakan denda, dimana mana ada cctv
apa orang yg suka buang sampah tadi tetap akan buang sampah sembarang? Tidak. Kenapa? Karna sistemnya.
Sistem bisa mengubah orang.
Belajarlah untuk memahami hidup terutama dari lingkungan, karna lingkungan sangat berpengaruh penting terhadap perilaku individu.