Rabu, 28 Oktober 2015

Pemikiran abstrak

Beberapa hari yang lalu saya pergi kekampus dari rumah, kampus saya  lumayan deket dari rumah, bisa sampai hanya dengan naik angkot sekali, tapi karna saya bareng sama temen, jadi harus naik angkot 2 kali.

Ketika turun dari angkot pertama. Dan mau naik angkot kedua. Waktu itu di daerah tebet. Sambil nunggu penumpang turun ada anak kecil yang seorang perempuan membawa amplop kecil-kecil dengan tas slempang kecilnya, kalian pasti sering menemukan anak kecil seperti itu di angkot. Tujuannya satu untuk mengamen.

Jujur saya tipe orang yang ga tegaan. Jadi saya mengajak teman memilih Menaiki angkot yang lain. Tanpa disadari anak kecil itu mengikuti kami. saya pasrah.
Memilih duduk di posisi paling pojok.

Anak itu mulai membagikan amplop ke penumpang, ketika giliran saya, saya angkat tangan dengan artian "maaf".

Diperjalanan anak itu menyanyi. dan sepanjang perjalanan itu saya memperhatikannya. Miris.

Kenapa? Anak sekecil itu!
Dimana orang tuanya?
Anak sekecil itu harusnya mengenal bagaimana bermain, bukan bagaimana mencari uang!

dikampus saya belajar tentang psikologi bermain, disitu dijelaskan bahwa anak yang masih terbilang kecil harus belajar bersosialisasi dengan lingkungan, belajar berpikir kritis, imajinasi, kreativitas, melalui bermain!
Dengan bermain anak-anak akan mengenal lingkungan, menumbuhkan pengalaman empiris agar mereka belajar , belajar mengenal diri mereka, belajar bertanggung jawab.

Miris. Kalau sudah begitu siapa yang bertanggung jawab?

"Ngapain mikirin orang lain, diri sendiri aja belum bener"
Saya sering mendengar kata ini, ya kata ini  benar. tapi saya berfikir, kenapa tidak? Kenapa ga kita seimbangkan? Dari orang lain kita bisa belajar. Belajar dari lingkungan itu perlu, karna sehari-harinya kita hidup di lingkungan. Apapun.

Saya pernah menunggu teman diterminal, disebelah saya ada seorang bapak" meminta.. setiap hari saya selalu lihat bapa ini ketika turun dari angkot. Biasanya hanya melewati, Tapi kali itu saya benar" memperhatikan.
Bapak itu duduk di jalan dengan beralaskan tikar, menengadahkan tangannya ketika orang lewat, sesekali bapak itu menengok keatah saya dengan wajah curiga. dalam 10 menit saya berdiri, kurang lebih bapak itu mendapatkan 15rb. Luar biasa untuk ukuran saya, karna saya merasa pernah dibayar 50rb dalam sehari selama 8 jam . Kerja dengan otak, tenaga, tapi saya bersyukur.

Dari situ saya belajar, betapa nikmatnya cape karna kerja seharian, terkadang saya mengeluh kerasnya jakarta.

Bagaimana tidak? Beberapa minggu yg lalu saya hampir di copet oleh orang yang dandanannya sangat rapi bak orang kantoran, caranya dia mencopet yang menurut saya sangat pintar.

lalu ketika saya bekerja didaerah kuningan dengan macetnya yg luar biasa, di sepanjang jalan banyak orang berjualan, bahkan sampai ibu" menggendong anak sambil menjual minuman. Rasanya saat itu mau nangis.

Melalui mereka saya belajar, belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk lebih mengenal arti hidup sebab-akibat.

Saya bukan orang sedang menyalahkan keadaan. Bukan.
Saya hanya mau menuangkan pemikiran saya.
Saya tidak menyalahkan indonesia, saya cinta indonesia dengan gugusan pulaunya yang indah.
Tapi saya tidak suka dengan sistem yang ada diindonesia.

Oke jadi sistemnya atau orangnya yang salah?
Sitemnya!

Ketika ada orang yang suka buang sampah sembarang, di taro dinegara yang punya sistem apabila buang sampah sembarang akan dikenakan denda, dimana mana ada cctv
apa orang yg suka buang sampah tadi tetap akan buang sampah sembarang? Tidak. Kenapa? Karna sistemnya.

Sistem bisa mengubah orang.

Belajarlah untuk memahami hidup terutama dari lingkungan, karna lingkungan sangat berpengaruh penting terhadap perilaku individu.

Minggu, 25 Oktober 2015

Sanguin melankolis?

Gue punya buku tentang tes kepribadian judulnya "who i am" karangan Daud Antonius.

Di salah satu pembahasan dalam buku tsb ada tes kepribadian yang namanya sanguin,melankolis,koleris, dan plegmatis.
buat orang psikologi 4 kepribadian itu ga asing.

Setelah gue kerjain tesnya, dan hasilnyaaaahhhhh gue tipe orang sanguin dan melankolis

Sanguin adalah kepribadian yang bersemangat dalam hidup, ceria, bersahabat. Orang-orang sanguin sangat menyukai kesenangan. Suka bicara, bersuara keras,

Sedangkan melankolis itu memiliki rasa seni yang tinggi, kemampuan analitis yang kuat, perfeksionis, sensitif dan rela berkorban, cenderung introvert. Pribadi yang sangat perfektionis cenderung membuat mereka sering menyalahkan diri sendiri dan menjadi rendah diri. Sekali memilih sesuatu maka mereka akan tetap setia mengerjakannya.

Mungkin bisa gue ringkas dari penjelasan diatas, orang-orang sanguin itu berantakan,cablak. Sedangkan melankolis dia lebih pendiam,sukanya damai tidak ada pertentangan. Bertolak belakang banget ga sih?

Awalnya gue ga merasa kalo gue orangnya kaya gitu. Tapi kesininya gue mulai merasa kalo kepribadian gue itu sesuai sama yg gue jelasin diatas.

Buat orang yang kenal deket sama gue, gue bakal ngeluarin pribadi sanguin gue, tapi buat orang yang baru kenal, mereka pasti nilai gue pendiem banget. Ehh tapi tergantung orangnya sih.

Kadang gue ngerasa bersyukur memiliki kepribadian sanguin melankolis. Dibalik berantakannya gue, gue punya sisi yang yaaa kalian tau lah orang melankolis gimana.

Bukan. Disini gue bukan lagi ngelebihin diri gue, engga gue ga gitu ko orangnya, sueerr

Kalo kalian baca isi blog gue yg lain, itu lah sisi melankolis gue.

Jujur gue gatau apa yang dari tadi gue tulis hahaha

Ajang perkenalan diri? Engga gue ga lagi ikutan audisi ko
Terus?
Gue cuma lagi suka nulis, karna gue sanguin biasanya cepet bosan, gue udah banyak banget nulis cerita tapi ga ada yang selesai, selalu ganti judul dan tema. Kata temen gue, gue harus belajar nulis, harus sering" nulis, iya nulis apa aja.
Dan sekarang gue lagi mencoba nulis apa yang ada di otak gue. Itu aja sih

Well, apapun kepribadian kalian, nikmatilah. Karna pribadi itu yang tuhan titipkan ke raga kalian. Dan pastinya jadilah pribadi yang baik yes.

By.

Sabtu, 24 Oktober 2015

00:12

Sebuah angka yang menunjukan waktu.
Sebuah angka yang menunjukan sudah larut malam.
Sebuah angka yang menunjukan kesunyian.
sebuah angka yang menunjukan mata harus terpejam.
sebuah angka yang menunjukan bintang semakin terlihat.
sebuah angka yang menunjukan badan harus istirahat.
namun sebuah angka ini  yang menunjukan rindu.
Sebuah angka ini yang menunjukan hati tak lagi tenang.
Sebuah angka ini yang menunjukan aku masih memikirkan dirimu.

00:12

Minggu, 18 Oktober 2015

Teman Dalam Doa

Hai kamu
Orang yang selalu ada namun tak pernah terlihat

Hai kamu
Orang yang jauh disana namun terasa dekat

Hai kamu
orang yang selalu datang namun hanya khayalan

Hai kamu
Orang yang dengan raga namun tak punya nama

Hai kamu
Tak pernah ku dengar suamu lagi

Hai kamu
Ada dimana dirimu?

Hai kamu
salahkah aku menganggapmu teman?

Teman dalam doa

Sabtu, 17 Oktober 2015

Bingung

Malam ini sepi,  malam ini sunyi
Ada apa?
Aku tak tahu

mungkin malam ini sedang mengerti diriku.
Atau mungkin malam ini melihatku kasihan
Ada apa?
aku tak tahu

Dimana para bintang dan rembulan?
Mengapa malam ini gelap?
ada apa?
aku tak tahu

Tidak seperti biasanya malam ini hening tak bersuara
seakan mulut malam ini terkunci
ada apa?
Aku tak tahu

Seperti halnya malam ini
Akupun tidak tahu
ada apa?
aku bilang aku tidak tahu

aku bingung