Sabtu, 22 April 2017

Jelang

Jelang pergimu
Sekali lagi maaf, untuk kesekian kalinya aku gagal membujuk diriku untuk tak terpikir perihal tentangmu

Jelang pergimu
Dan lagi aku gagal menahan tanganku untuk tak menuliskan sajak namamu

Jelang pergimu
Bahkan tak sedikitpun matamu menyapa wajahku, walau senyumku memanggilmu

Perihal jelang, kau adalah jelang yang tak sanggup ku nantikan, pergimulah pemenangnya

Senin, 17 April 2017

Kau tak selalu benar

Kini aku mengerti, perihal kamu yang pergi meninggalkan harapku disini.

Kau benar sekali tentang senja yang masuk ke peraduan tak seindah saat menampakkan.

Kau benar sekali tentang hujan yang turun tak diharapkan tak pernah dikenang.

Kau benar sekali tentang puisi yang tak tertuliskan hanya akan tersimpan usang.

Yaaa, kau memang selalu benar tentangnya.

Namun kau lupa disudut senja sana selalu ada jingga yang menentramkan

Dan kau lupa di balik hujan turun selalu ada rintik yang dendang menyenangkan

Dan sekali lagi kau lupa di setiap bait puisi selalu ada kata yang meyakinkan.

Dan kau sangat lupa, disetiap benarmu ada salah yang selalu kau umpatkan
.
.
.
.
.
.
Sadiah
April,2017

Sabtu, 15 April 2017

Rinduku dikota hujan

Sore, ketika aku menulis ini dikotaku sedang hujan. Bagaimana dikotamu?

Istimewanya, hujan sore ini terselip rindu yang tak mampu terucap. Hanya tetap disana, diruang dalam yang hanya terlihat oleh tatap.

Sayangnya, tak ada tatap yang diharap
Hanya menyisakan aku yang tertunduk sesak.

Apa memang selalu begini merasakan rindu ketika hujan? Ketika harapan bersatu dengan kesakitan. Dan bodohnya aku tak mampu menahan.

Ini rinduku dikota hujan, bagaimana dikotamu?
.
.
.
.
Sadiah
Bogor, 2017
Ditemani jankrik